Kamis, 01 Desember 2011

fraktur cruris sepertiga distal


BAB II
KERANGKA TEORI
A.       KERANGKA TEORI
1.    DEFINISI FRAKTUR
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis baik bersifat total ataupun parsial yang umumnya disebabkan oleh tekanan yang berlebihan, sering diikuti oleh kerusakan jaringan lunak dengan berbagai macam derajat, mengenai pembuluh darah, otot dan persarafan. Trauma yang menyebabkan tulang patah dapat berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung. Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan. Trauma tidak langsung, apabila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur, misalnya jatuh dengan tangan ekstensi dapat menyebabkan fraktur pada klavikula, pada keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap utuh.
Fraktur ekstremitas bawah adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang terjadi pada ekstremitas bawah yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa. Trauma yang menyebabkan fraktur dapat berupa trauma langsung, misalnya sering terjadi benturan pada ekstremitas bawah yang menyebabkan fraktur pada tibia dan fibula.
Fraktur kruris (L:crus = tungkai) merupakan fraktur yang terjadi pada tibia dan fibula. Fraktur tertutup adalah suatu fraktur yang tidak mempunyai hubungan dengan dunia luar. Maka fraktur kruris tertutup adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang, tulang rawan sendi maupun tulang rawan epifisis yang terjadi pada tibia dan fibula yang tidak berhubungan dengan dunia luar. Fraktur kruris merupakan fraktur yang sering terjadi dibandingkan dengan fraktur pada tulang panjang lainnya. Periosteum yang melapisi tibia agak tipis terutama pada daerah depan yang hanya dilapisi kulit sehingga tulang ini mudah patah dan biasanya fragmen frakturnya bergeser karena berada langsung dibawah kulit sehingga sering juga ditemukan fraktur terbuka.
Pengertian Fraktur dari beberapa ahli yaitu
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. (Lukman dan Ningsih, Nurna, 2009 ; 25).
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, kebanyakan fraktur akibat dari trauma, beberapa fraktur sekunder terhadap proses penyakit seperti osteoporosis, yang menyebabkan fraktur yang patologis (Barret dan Bryant, 1990).
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang yang ditandai oleh rasa nyeri, pembengkakan, deformitas, gangguan fungsi, pemendekan, dan krepitasi (Doenges, 2000).
Fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang. (Doenges. 2000 ; 761)
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. (Smeltzer, dkk. 2001 ; 2357).
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringau tulang dan/atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Sjamsuhidayat, 2005).
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik (Price, 1995).
Fraktur adalah setiap retak atau patah pada tulang yang utuh (Reeves, 2001).
Fraktur adalah putusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai tipe dan luasnya. Fraktur terjadi ketika tulang diberikan stres lebih besar dari kemampuannya untuk menahan (Sapto Harnowo, 2002).
Fraktur adalah suatu keadaan dikontinuitas jaringan struktural pada tulang tibia dan fibula ( Silvia Anderson Price, 1995 )
Fraktur adalah terputusnya kontiunitas tulang fibia dan fibula ( Purnawan junaidi 1982 ).
Fraktur kruris merupakan suatu istilah untuk patah tulang tibia dan fibula yang biasanya terjadi pada bagian proksimal (kondilus), diafisis atau persendian pergelangan kaki. (Muttaqin. 2008 ; 232)
Fraktur cruris adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya, terjadi pada tulang tibia dan fibula. Fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya. (Brunner & Suddart, 2000).
Faraktur kruris 1/3 distal adalah suatu keadaan terputusnya kontinuitas tulang kruris pada bagian ujung.
Sinistra adalah bagian badan tubuh sebelah kiri sedangkan dextra adalah bagian tubuh sebelah kanan.
Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat penyusun simpulkan, Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, retak atau patahnya tulang yang utuh, yang biasanya disebabkan oleh trauma/rudapaksa atau tenaga fisik yang ditentukan jenis dan luasnya trauma.
Sedangkan dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian fraktur kruris 1/3 distal sinistra adalah terputusnya hubungan kontinuitas tulang tibia dan fibula pada daerah sepertiga bawah tungkai bawah bagian kiri (Apply, 1995).

2.    ETIOLOGI

Tulang bersifat relatif rapuh, namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya pegas untuk menahan tekanan. Fraktur dapat terjadi akibat :
a.    Peristiwa trauma
Sebagian besar fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba dan berlebihan, yang dapat berupa pemukulan, penghancuran, penekukan, pemuntiran, atau penarikan. Bila terkena kekuatan langsung, tulang dapat patah pada tempat yang terkena, jaringan lunaknya juga pasti rusak. Bila terkena kekuatan tak langsung, tulang dapat mengalami fraktur pada tempat yang jauh dari tempat yang terkena kekuatan itu, kerusakan jaringan lunak di tempat fraktur mungkin tidak ada.
Trauma langsung menyebabkan fraktur pada titik terjadinya trauma itu, misalnya tulang kaki terbentur bumper mobil maka tulang akan patah, tepat ditempat benturan.
b.    Fraktur kelelahan atau tekanan
Keadaan ini paling sering ditemukan pada tibia atau fibula atau metatarsal, terutama pada atlet, penari, dan calon tentara yang jalan berbaris dalam jarak jauh.
c.    Fraktur patologik
Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal kalau tulang itu lemah (misalnya oleh tumor) atau kalau tulang itu sangat rapuh (misalnya pada penyakit Paget).
Daya pemuntir menyebabkan fraktur spiral pada kedua tulang kaki dalam tingkat yang berbeda; daya angulasi menimbulkan fraktur melintang atau oblik pendek, biasanya pada tingkatyang sama. Pada cedera tak langsung, salah satu dari fragmen tulang dapat menembus kulit; cedera langsung akan menembus atau merobek kulit diatas fraktur. Kecelakaan sepeda motor adalah penyebab yang paling lazim.
d.   Trauma tidak langsung menyebabkan fraktur di tempat yang jatuh dari tempat terjadinya trauma.
e.     Truma akibat tarikan otot, jarang terjadi.
f.     Adanya metastase kanker tulang dapat melunakkan struktur tulang dan menyebabkan fraktur
g.     Adanya penyakit primer seperti osteoporosis.
( E. Oerswari, 1989 : 147 )
Ada 2 faktor yang mempengaruhi fraktur :
a.    Ekstrinsik meliputi kecepatan dan durasi trauma yang mengenai tulang, arah dan kekuatan trauma.
b.    Intrinsik meliputi kapasitas tulang mengabsorsi energi trauma, kelenturan, kekuatan dan densitas tulang.
Fraktur biasanya disebabkan oleh adanya trauma abduksi tibia terhadap femur saat kaki terfiksasi pada dasar, misalnya trauma sewaktu mengendarai mobil dan juga dapat terjadi karena pukulan langsung, kekuatan yang berlawanan, gerakan pemuntiran tiba-tiba, dan bahkan kontraksi otot yang berlebihan.
















3.    PATOFISIOLOGI

Trauma langsung       trauma tidak langsung             kondisi patologis



Nyeri
FRAKTUR
Diskontinuitas tulang              pergerseran frakmen tulang    
       Perubahan jaringan sekitar           kerusakan fragmen tulang
Kerusakan intregitas kulit
Pergeseran frag. Tlang            laserasi kulit    spasme otot     tek.ssm tlng > dr kapilet
Decomitas                       putus vena/arteri   pengktn tek.kpiler      reaksi stres klien
Gguan fungsi      perdarahan  pelepasan histamin              melepaskan katekolamin
          Kehilangan vol. Cairan    protein plasma hilang         memobilisasi as.lemak
Syok hipovolemik
Gangguan mobilitas fisik
                                                                          Edema           brgbung dg trombosit
                                                                          Penek. Pemb.drah     emboli
                                                                          Penurunan perfusi jari
Gangguan perfusi jaringan
                                                                                    menyumbat pembuluh darah






4.    KLASIFIKASI

Ada 2 tipe dari fraktur cruris yaitu
a.       Fraktur intra capsuler : yaitu terjadi dalam tulang sendi panggul dan captula
·      Melalui kapital fraktur
·       Hanya dibawah kepala femur
·       Melalui leher dari femur
b.       Fraktur ekstra kapsuler
·      Terjadi diluar sendi dan kapsul melalui trokanter cruris yang lebih besar atau yang lebih kecil pada daerah intertrokanter
·      Terjadi di bagian distal menuju leher cruris tetapi tidak lebih dari 2 inci di bawah trokanter terkecil.
Klasifikasi fraktur pada tibia dan fibula:
1.    Fraktur proksimal tibia
a.    Fraktur Infrakondilus Tibia
Fraktur Infrakondilus tibia terjadi sebagai akibat pukulan pada tungkai pasien yang mematahkan tibia dan fibula sejauh 5cm di bawah lutut. Walaupun tungkai bawah dapat membengkak dalam segala arah, namun biasanya terjadi pergeseran lateral ringan dan tidak ada tumpang tindih atau rotasi. Fraktur tidak masuk ke dalam lututnya. Dapat dirawat dengan gips tungkai panjang, sama seperti fraktur pada tibia lebih distal. Jika fragmen tergeser, dapat dilakukan manipulasi ke dalam posisinya dan gunakan gips tungkai panjang selama 6 minggu. Kemudian dapat dilepaskan dan diberdirikan denganmenggunakan tongkat untuk menahan berat badan.
b.    Fraktur Berbentuk T
Terjadi karena terjatuh dari tempat yang tinggi, menggerakkan korpus tibia ke atas diantara kondilus femur, dan mencederai jaringan lunak pada lutut dengan hebat. Kondilus tibia dapat terpisah, sehingga korpus tibia tergeser diantaranya. Traksi tibia distal sering dapat mereduksi fraktur ini secara adekuat.
c.    Fraktur Kondilus Tibia(bumper fracture)
Fraktur kondilus lateralis terjadi karena adanya trauma abduksi terhadap femur dimana kaki terfiksasi pada dasar. Fraktur ini biasanya terjadi akibat tabrakan pada sisi luar kulit oleh bumper mobil, yang menimbulkan fraktur pada salah satu kondilus tibia, biasannya sisi lateral.
d.   Fraktur Kominutiva Tibia Atas
Pada fraktur kominutiva tibia atas biasanya fragmen dipertahankan oleh bagian periosteum yang intak. Dapat direduksi dengan traksi yang kuat, kemudian merawatnya dengan traksi tibia distal.
2.    Fraktur Diafisis
Fraktur diafisis tibia dan fibula lebih sering ditemukan bersama-sama. Fraktur dapat juga terjadi hanya pada tibia atau fibula saja. Fraktur diafisis tibia dan fibula terjadi karena adanya trauma angulasi yang akan menimbulkan fraktur tipe transversal atau oblik pendek, sedangkan trauma rotasi akan menimbulkan trauma tipe spiral. Fraktur jenis ini dapat diklasifikasikan menjadi:
a.    Fraktur Tertutup Korpus Tibia pada Orang Dewasa
Dua jenis cedera dapat mematahkan tibia dewasa tanpa mematahkan fibula:
a)   Jika tungkai mendapat benturan dari samping, dapat mematahkan secara transversal atau oblik, meninggalkan fibula dalam keadaan intak, sehingga dapat membidai fragmen, dan pergeseran akan sangat terbatas.
b)   Kombinasi kompresi dan twisting dapat menyebabkan fraktur oblik spiral hampir tanpa pergeseran dan cedera jaringan lunak yang sangat terbatas.
Fraktur jenis ini biasanya menyembuh dengan cepat. Jika pergeseran minimal, tinggalkan fragmen sebagaimana adanya. Jika pergeseran signifikan, lakukan anestesi dan reduksikan.
c)   Fraktur Tertutup Korpus Tibia pada Anak-anak
Pada bayi dan anak-anak yang muda, fraktur besifat spiral pada tibia dengan fibula yang intak. Pada umur 3-6 tahun, biasanya terjadi stress torsional pada tibia bagian medial yang akan menimbulkan fraktur green stick pada metafisis atau diafisis proksimaldengan fibula yang intak. Pada umur 5-10 tahun, fraktur biasanya bersifat transversaldengan atau tanpa fraktur fibula.
d)  Fraktur Tertutup Pada Korpus Fibula
Gaya yang diarahkan pada sisi luar tungkai pasien dapat mematahkan fibula secara transversal. Tibianya dapat tetap dalam keadaan intak, sehingga tidak terjadi pergeseran atau hanya sedikit pergeseran ke samping. Biasanya pasien masih dapat berdiri. Otot-otot tungkai menutupi tempat fraktur, sehingga memerlukan sinar-X untuk mengkonfirmasikan diagnosis. Tidak diperlukan reduksi, pembidaian, dan perlindungan, karena itu asalkan persendian lutut normal, biarkan pasien berjalan segera setelah cedera jaringan lunak memungkinkan. Penderita cukup diberi analgetika dan istirahat dengan tungkai tinggi sampai hematom diresorbsi.
e)   Fraktur Tertutup pada Tibia dan Fibula
Pada fraktur ini tungkai pasien terpelintir, dan mematahkan kedua tulang pada tungkai bawah secara oblik, biasanya pada sepertiga bawah. Fragmen bergeser ke arah lateral, bertumpang tindih, dan berotasi. Jika tibia dan fibula fraktur, yang diperhatikan adalah reposisi tibia. Angulasi dan rotasi yang paling ringan sekalipun dapat mudah terlihat dan dikoreksi. Perawatan tergantung pada apakah terdapat pemendekan. Jika terdapat pemendekan yang jelas, maka traksi kalkaneus selama seminggu dapat mereduksikannya. Pemendekan kurang dari satu sentimeter tidak menjadi masalah karena akan dikompensasi pada waktu pasien sudah mulai berjalan. Sekalipun demikian, pemendekan sebaiknya dihindari.

Menurut Reeves. (2001)
Berdasarkan parahnya integritas kulit, lokasi, bentuk, patahan dan status kelurusan
1.    Fraktur tertutup ( simple )
Fraktur yang fragmen tulangnya tidak menembus kulit atau tidak menyebabkan robeknya kulit sehingga tempat fraktur tidak tercemar oleh lingkungan.
2.    Fraktur terbuka ( complete )
Fraktur yang mempunyai hubungan dngan dunia luar melalui luka pada kulit dan jaringan lunak, dapat berbentuk from within (dari dalam) dan berpotensial untuk terjadi infeksi.
3.    Fraktur komplit ( complete )
Garis fraktur melibatkan seluruh potongan menyilang dari tulang dan frgmen tulang biasanya berubah tempat atau mengalami pergeseran atau perpindahan posisi tulang.
4.    Fraktur tak komplit ( Incomplete )
Fraktur yang hanya melibatkan sebagian potongan menyilang tulang satu sisi patah yang lain biasanya hanya bengkok (green stick)

 Tipe fraktur yang berat.
1.    Greenstick
fraktur yang tidak sempurna dan biasanya sering terjadi pada anak-anak.
2.    Transversal
Fraktur luas yang melintang dari tulangf atau fraktur sepanjang garis tengah tulang
3.    Oblik
Fraktur yang memiliki arah miring.
4.    Spiral
Fraktur luas yang mengelilingi tulang.
5.    Kominutif
Fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa frakmen.
6.    Depresi
fraktur ini terjadi pada tulang pipih, khususnya tulang tengkorak dimana kekerasan langsung mendorong bagian tulang masuk kedalam.
7.    Kompresi
Fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang).
8.    Avulsi
disebabkan oleh kontraksi otot yang kuat, sehingga menarik bagian tulang tempat tendon tersebut melekat. Paling sering terjadi pada bahu dan lutut, tetapi bisa juga terjadi pada tungkai dan tumit.
9.    Patologis
Fraktur terjadi pada penyakit tulang ( seperti kanker, osteoforosis ) dengan tak ada trauma, atau fraktur yang terjadi pada daerah tulang oleh ligamen atau tendo pada daerah perlekatannnya.

5.    MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi, deformitas, pemendekan ekstremitas, krepitus, pembengkakan lokal, dan perubahan warna (Smeltzer, 2002). Gejala umum fraktur menurut Reeves (2001) adalah rasa sakit, pembengkakan, dan kelainan bentuk.
Tanda dan gejala yang umum ditemukan antara lain :
1.    Nyeri terus-menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antarfragmen tulang.
2.    Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian yang tak dapat digunakan dan cenderung bergerak secara tidak alamiah (gerakan luar biasa) bukannya tetap rigid seperti normalnya. Pergeseran fragmen pada fraktur lengan atau tungkai menyebabkan deformitas (terlihat maupun teraba) ekstremitas yang bisa diketahui dengan membandingkan ekstremitas normal. Ekstremitas tak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot bergantung pada integritas tulang tempat melengketnya otot.
3.    Pada fraktur tulang panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat di atas dan bawah tempat fraktur. Fragmen sering saling melingkupi satu sama lain sampai 2,5-5 cm (1-2 inchi).
4.    Saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya. Uji krepitus dapat mengakibatkan kerusakan jaringan lunak yang lebih berat.
Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur.
Tanda dan gejala menurut Joyce. M. Black, 1993 : 199 yaitu :
1.     Deformitas
Daya terik kekuatan otot menyebabkan fragmen tulang berpindah dari tempatnya perubahan keseimbangan dan contur terjadi seperti :
a.     Rotasi pemendekan tulang
b.    Penekanan tulang
2.     Bengkak
Edema muncul secara cepat dari lokasi dan ekstravaksasi darah dalam jaringan yang berdekatan dengan fraktur
3.    Echumosis dari Perdarahan Subculaneous
4.    Spasme otot spasme involunters dekat fraktur
5.    Tenderness/keempukan
6.    Nyeri mungkin disebabkan oleh spasme otot berpindah tulang dari tempatnya dan kerusakan struktur di daerah yang berdekatan.
7.    Kehilangan sensasi (mati rasa, mungkin terjadi dari rusaknya saraf/perdarahan)
8.    Pergerakan abnormal
9.    Shock hipovolemik hasil dari hilangnya darah
10.          Krepitasi.

6.    PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a.    Pemeriksaan Rontgen, menentukan lokasi./.luasnya fraktur dan jenis fraktur
b.    CT Scan tulang, digunakan untuk mengidentifikasi lokasi dan panjangnya tulang didaerah yang sulit dievaluasi.
c.    Hitung darah lengkap, hematokrit dan leukosit mungkin meningkat atau menurun dan.
d.   Kreatinin, trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal
(Lukman dan Ningsih, Nurna. 2009 ; 37)
7.    KOMPLIKASI FRAKTUR
Menurut Muttaqin. (2008;76)
a.    Komplikasi awal
a)    Kerusakan arteri
Pecahnya arteri karena trauma dapat ditandai dengan tidak adanya nadi, CRT menurun, sianosis pada bagian distal.
b)   Sindrom kompartemen
Merupakan komplikasi yang serius yang terjadi karena terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh darah dalam jaringan parut. Hal ini disebabkan oleh edema atau perdarahan yang menekan otot saraf dan pembuluh darah, atau karena tekanan dari luar seperti gips dan pembebatan yang terlalu kuat.
c)     Fat Embolism Syndrome
Komplikasi serius yang sering terjadi pada kasus fraktur tulang panjang. FES terjadi karena sel-se lemak yang dihasilkan marrow kuning masuk ke aliran darah dan menyebabkan kadar oksigen dalam darah menjadi rendah. Hal tersebut ditandai dengan gangguan pernapasan, takikardi, hipertensi, takipnea dan demam.
d)   Infeksi
Sistem pertahanan tubuh akan rusak bila ada trauma pada dan jaringan. Pada trauma ortopedi, infeksi dimulai pada kulit dan masuk ke dalam. Hal ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka, tetapi dapat juga karena penggunaan bagan lain daam pembedahan, seperti pin (ORIF & OREF) dan plat.
e)    Syok
Syok terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya permeabilitas kapiler sehingga menyebabkan oksigenasi menurun.
b.    Komplikasi lanjut
Menurut Muttaqin (2008)
a)        Mal union adalah keadaan ketika fraktur menyembuh pada saanya, tetapi terdapat deformitas yang berbentukk angulasi pemendekan atau union secara menyilang misalnya pada fraktur tibia-fibula.
b)        Delayed union adalah merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Hal ini terjadi karena suplai darah ke tulang menurun. Delayed union adalah fraktur yang tidak sembuh setelah waktu 3- bulan (tiga bulan untuk anggota gerak atas dan lima bulan untuk anggota gerak bawah).
c)        Non union adalah fraktur yang tidak sembuh antara 6-8 bulan dan tidak didapatkan konsolidasi sehingga terdapat pseudoartrosis (sendi palsu). Pseudoartrosis dapat terjadi tanpa infeksi, tetapi dapat juga terjadi bersama-sama infeksi.

8.    PENATALAKSANAAN
1)   Prinsip penanganan fraktur (Muttaqin. 2008;81)
a.    Rekognisi
Prinsip utama adalah mengetahui dan menilai keadaan fraktur dengan anamnesis, pemeriksaan klinis, dan radiologi. Pada awal pengobatan perlu diperhatikan lokasi fraktur, bentuk fraktur, menentukan tehnik yang sesuai untuk pengobatan dan komplikasi yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengobatan.
b.    Reduksi
Reduksi fraktur adalah mengembalikan fungsi normal dan mencegah komplikasi seperti kekakuan, deformitas serta perubahan osteoarthritis dikemudian hari.
Reduksi fraktur apabila perlu. Pada fraktur intra-artikulas diperlukan reduksi anatomis, sedapat mungkin mengembalikan fungsi normal, dan mencegah komplikasi seperti kekakuan, deformitas, serta perubahan oseoartritis dikemudian hari.


c.    Retensi (imobilisasi fraktur)
Adalah metode yang dilaksanakan untuk mempertahankan fragmen-fragmen tersebut selama masa penyembuhan dengan cara imobilisasi.
d.   Rehabilitasi
Adalah mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin. Program rehabilitasi dilakukan dengan mengoptimalkan seluruh keadaan klien pada fungsinya agar aktivitas dapat dilakukan kembali.
2)   Penatalaksanaan menurut Muttaqin (2008) ada 2 yaitu
a.    Penatalaksanaan konservatif
1.        Proteksi adalah proteksi fraktur terutama untuk mencegah trauma lebih lanjut dengan cara memberikan sling (mitela) pada anggota gerak atas atau tongkat pada anggota gerak bawah.
2.        Imobilisasi dengan bidai eksterna. Imobilisasi pada fraktur dengan bidai eksterna hanya memberikan imobilisasi. Biasanya  menggunakan Gips atau dengan macam-macam bidai dari plastik atau metal.
3.        Reduksi tertutup dengan menggunakan manipulasi dan imobilisasi eksterna yang menggunakan gips. Reduksi tertutup yang diartikan manipulasi dilakukan dengan pembiusan umum dan lokal.
4.        Reduksi tertutup dengan traksi kontinu dan counter traksi. Tindakan ini mempunyai tujuan utama, yaitu beberapa reduksi yang bertahap dan imobilisasi.
b.     Penatalaksanaan pembedahan
Penatalasanaan ini sangat penting diketahui oleh perawat, jika ada keputusan bahwa klien diindikasikan untuk menjalani pembedahan, perawat mulai berperan dalam asuhan keperawatan tersebut.
a.    Reduksi tertutup dengan fiksasi eksternal atau fiksasi perkutan dengan K-Wire.
b.   Reduksi terbuka dan fiksasi internal atau fiksasi eksternal tulang yaitu :
a)    Open Reduction and Internal Fixation (ORIF) atau Reduksi terbuka dengan Fiksasi Internal.
ORIF akan mengimobilisasi fraktur dengan melakukan pembedahan untuk memasukan paku, sekrup atau pen kedalam tempat fraktur untuk memfiksasi bagian-bagian tulang pada fraktur secara bersamaan. Fiksasi internal sering digunakan untuk merawat fraktur pada tulang pinggul yang sering terjadi pada orang tua.
b)   Open Reduction and External Fixation (OREF) atau Reduksi Terbuka dengan Fiksasi Eksternal
Tindakan ini merupakan pilihan bagi sebagian besar fraktur. Fiksasi eksternal dapat menggunakan konselosascrew atau dengan metilmetakrilat (akrilik gigi) atau fiksasi eksterna dengan jenis-jenis lain seperti gips.

9.    PENGOBATAN
a.    Proses penyembuhan tulang
Ketika tulang mengalami cedera, fragmen tulang tidak hanya ditambal dengan jaringan parut, namun secara alamiah tulang akan mengalami tegenerasi sendiri. Tahapan penyembuhan tulang terdiri atas 5, yaitu : (Lukman dan Ningsih, Nurna. 2009 ; 8)
a)    Tahap inflamasi
Tahap inflamasi berlangsung beberapa hari dan akan hilang dengan berkurangnya pembengkakan dan nyeri. Saat tulang mengalami cedera, terjadi perdarahan dalam jaringan yang cedera dan pembentukan hematoma di tempat tulang yang patah. Ujung fragmen tulang mengalami devitilisasi karena terputusnya pasokan darah. Tempat cedera kemudian akan diinvasi oleh makrofag (sel darah putih besar), yang akan membersihkan daerah tersebut. Pada saat itu terjadi inflamasi, pembengkakan dan nyeri.
b)   Tahap proliferasi sel
Kira-kira lima hari hematoma akan mengalami organisasi, terbentuknya benang-benang fibrin dalam jendalan darah, membentuk jaringan untuk revaskularisasi, dan invasi fibroblas dan osteoblas. Fibroblas dan osteoklas akan menghasilkan kolagen dan proteoglikan sebagai matriks kolagen pada patahan tulang. Terbentuk jaringan ikat fibrosa dan tulang rawan (osteoid). Dari periosteum, tampak pertumbuhan melingkar. Kalus tulang rawan tersebut dirangsang oleh gerakan mikro minimal pada tempat patah tulang, tetapi gerakan berlebihan akan merusak struktur kalus. Tulang yang sedang aktif tumbuh menunjukan petensial elektronegatif.
c)    Tahap pembentukan kalus
Hari ke 10 hingga sebelum minggu ke-7. Aktivitas osteoblas-osteoclas muncul, hingga terbentuk kalus.
d)   Tahap penulangan kalus (osifikasi)
Pembentukan kalus mulai mengalami penulangan dalam dua sampai tiga minggu patah tulang, melalui proses penulangan endokondral. Patah tulang panjang orang dewasa normal, penulangan memerlukan waktu tiga sampai empat bulan. Mineral terus menerus ditimbun sampai tulang benar-benar telah bersatu dengan keras.
e)    Tahap menjadi tulang dewasa (Remodeling)
Tahap akhir perbaikan patah tulang meliputi pengambilan jaringan mati dan reorganisasi tulang baru ke susunan struktural sebelumnya.
b.    Faktor penyembuhan fraktur
Faktor-faktor yang menentukan lama penyembuhan fraktur adalah sebagai berikut : (Muttaqin. 2008 ; 75)
a.    Usia penderita.
Waktu penyembuhan tulang anak-anak jauh lebih cepat dari pad orang dewasa. Hal ini di sebabkan karena aktivitas proses osteogenesis pada periosteum dan endoesteum serta proses pembentukan tulang pada bayi sangat aktif. Apabila usia bertambah proses tersebut semakin berkurang.
b.    Lokasi dan konfigurasi fraktur.
Lokasi fraktur memang berperan penting. Penyembuhan fraktur metafisis lebih cepat penyembuhannya dari pad fraktur diafisis. Di samping itu konfigurasi fraktur seperti fraktur tranversal lebih lambat penyembuhannya di bandingkan dengan fraktur oblik karena kontak yang lebih banyak.
c.    Pergeseran awal fraktur.
Pada fraktur yang periosteumnya tidak bergeser penyembuhannya dua kali lebih cepat di bandingkan dengan fraktur yang bergeser.
d.   Vaskularisasi pada kedua fragmen.
Apabila fragmen mempunyai vaskularisasi yang baik, penyembuhannya tanpa komplikasi. Bila salah satu sisi fraktur mempunyai vaskularisasi yang jelek sehingga mengalami kematian.
e.    Reduksi serta imobilisasi.
Reposisi fraktur akan memberikan kemungkinan untuk vaskularisasi yang lebih baik dalam bentuk asalnya. Imobilisasi yang sempurna akan mencegah pergerakan dan kerusakan pembuluh darah yang akan mengganggu penyembuhan fraktur.
f.      Waktu imobilisasi.
Bila imobilisasi tidak di lakukan sesuai waktu penyembuhan sebelum terjadi union, kemungkinan akan terjadi non-union sangat besar.
g.    Faktor adanya infeksi dan keganasan local
h.    Cairan synovial.
Cairan synovial yang terdapat di persendian merupakan hambatan dalam penyembuhan fraktur.




.



0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda